Renungan Pagi
Selasa, 6 Juni 2017
Berdiri Di Tanah Yang Suci
“Lalu Ia berfirman: ‘Janganlah datang dekat –dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.’ Lagi Ia berfirman: ‘Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’ Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah”
(Keluaran 3:5, 6).
Pada saat panggilan resminya untuk melayani, Musa diperintahkan untuk meninggalkan kasutnya di hadapan Tuhan. Pendidikannya di Mesir memberi dia keunggulan yang besar; dia adalah , penyair, sejahrawan, filsuf, legislator , dan ahli strategi militer, seorang pria yang bermartabat dan mulia. Tetapi sekarang , di semak yang terbakar, ia berhadapan dengan Seorang yang lebih besar daripada dia, dan di hadapan-Nya dia diperintahkan untuk menunjukkan kepatuhan dan rasa hormat.
Kekuasaan tidak lagi memerintah kita; kita tidak lagi tunduk hormat dihadapan raja dan kekuasaan. Hubungan subjek yang berdaulat, berhasil ditantang dan diberhentikan oleh Revolusi Prancis, sebagaimana besar merupakan konsep yang pudar dari sejarah. Kita memilih pemimpin kita yang menjabat, dan ketika kita memilih, kita mengusulkan mereka. Kita bahkan bisa menuntut atau ketika kita memilih, kita mengusulkan mereka. Sebagian besar negara-negara yang mempetahankan cirri pemerintahan yang berhubungan dengan kerajaan melihat mereka lebih sekedar hubungan nostalgia kepada masa lalu daripada otoritas yang relevan sekarang ini.
Semua hal ini membuat sulit bagi orang modern untuk berpikir jika dari mereka merupakan milik atau dikendalikan oleh makhluk superior. Namun tidak ada cara yang lebih jelas untuk mengekspresikan hubungan “pencipta-penciptaan.” Dia adalah penguasa alam semesta – Dia adalah Allah, raja kita. Dialah saat ini saat ini yang berdaulat dan memiliki otorita tertinggi atas kita seperti ketika Musa berdiri dengan kaki telanjang di hadapan semak yang terbakar.
Dan bagaimana cara terbaik, tanpa contoh subjek kedaulatan kontemporer untuk memberi informasi kepada presepsi kita, apakah kita cukup berhasil dan mempertahankan citra ini? Kita melakukannya dengan mempelajari Firman Allah dengannya kita mendapat pengaruh lagi dan lagi: “Penguasa hamba,” “tuan-budak,” dan “raja-penduduk” hubungan yang Tuhan pertahankan dengan semua makhluk di dunia-Nya. Tetapi yang paling memberi dampak, adalah ketika kita dipengaruhi oleh pengorbanan-Nya yang tak terkatakan, yang telah mati untuk menyelamatkan dunia kita yang hilang.
Ketika tindakan yang penuh kasih itu menangkap hari kita, kita akan dengan cepat melepaskan sepatu usaha kita itu dan menerima dari Dia petunjuk dan hikmat dan kuasa, dan dengan rendah hati mendengar dan mengikuti keinginan-Nya bagi hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar