Rabu 28 Juni
Allah Kita yang Hidup
"Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan lblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi lblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: 'Kiranya Tuhan menghardik engkau!'" (Yudas 9).
Yesus dan Musa dibangkitkan: Musa, oleh tindakan Allah alam semesta semata-mata yang tidak ingin membiarkan tubuh hamba yang dikasihi-Nya terbuang di bumi; Yesus, bagaimana pun, keluar kubur oleh kekuatan yang berasal dari dalam diri-Nya. Kebangkitan-Nya dari kubur tidak tergantung pada seruan malaikat yang datang ke bumi untuk menggoncang dunia kita, melainkan dengan kewenangan internal keberadaan-Nya.
Kristus yang Ilahi tidak mungkin disalibkan; Keilahian tidak mungkin mati. Kemanusiaan Kristuslah yang berakhir di atas salib; tetapi daging yang tidak berdosa tidak akan membusuk. Dia mengambil kematian, tetapi kematian tidak bisa menguasai Dia. Dia mati, tetapi Dia tidak pernah membusuk. Jantungnya berhenti berdetak, tetapi daging-Nya tidak pernah mati. Darahnya berhenti mengalir, tetapi penguraian tidak pernah terjadi. Setan berharap bahwa tubuh Yesus yang terkoyak, dan terkurung akan membusuk di dalam tanah, namun tidak ada kerusakan molekular yang terjadi-pembusukan tidak pernah terjadi. Dalam arti sebenarnya, Dia tidur!
Penjara kematian tidak bisa menahan Dia yang dengan berani memproklamasikan pembebasan bagi para tawanan; tubuh-Nya yang berlumuran darah yang mengatakan bahwa Ia datang untuk membebaskan mereka yang tertindas tidak terbaring lama dalam kondisinya yang remuk; kesedihan yang menyerang hati-Nya yang mengatakan bahwa Ia datang untuk menyembuhkan mereka yang hancur hatinya tidak akan lama lagi hidup dalam kondisi hancur (lihat Luk. 4:18). Sekiranya Dia melakukan satu dosa selama hidup-Nya, kematian akan mencengkeram Dia selamanya. Tetapi Dia yang tidak melakukan dosa, tidak akan-tidak bisa-menjadi korban permanen dari konsekuensinya. Menang atas pencobaan, Dia menang atas kematian dan Dia bangkit!
Dan ketika Dia bangkit, Dia bangkit selamanya dengan mempertahankan identitas kemanusiaan-Nya (Selected Messages, jld. l, hlm. 258). Dia datang ke dunia kita "Keilahian terbungkus dalam kemanusiaan'' -Allah dalam kemasan mausia. Dan ketika Dia bangkit dan kembali kepada kemuliaan Dia meninggikan, "kemanusiaan terbungkus dalam Keilahian:' sehingga menyediakan bagi umat manusia satu pernyataan diri-Nya sendiri di hadapan Bapa. Inilah sebabnya kita mengangap Dia sebagai Tuhan kita yang hidup, Tuhan kita yang mendengarkan, Tuhan kita yang penuh kasih, dan Musa kita yang benar-benar lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar