Selasa, 27 Juni 2017

PELAJARAN SEKOLAH SABAT

Senin, 26 Juni 2017
Pertobatan Saulus 
“Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu’” (Kis. 9: 5). 
Meskipun penganiayaan Saulus terhadap gereja mula-mula dimulai tidak terlalu terlihat jelas (karena ia hanya menjaga jubah dari para pembunuh Stefanus), hal itu dengan cepat meningkat (Iihat Kis 8:1-3; 9:1, 2, 13, 14, 21; 22:3-5). Beberapa kata-kata yang Lukas gunakan untuk menggambarkan Saulus menunjukkan gambar binatang yang liar dan buas atau tentara yang sedang membungkuk untuk menghancurkan lawannya. Kata yang diterjemahkan “membinasakan” dalam Kis 8:3 (ESV), misalnya, digunakan dalam terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama (Mzm. 80:13) untuk menggambarkan perilaku babi hutan yang tidak terkendali dan merusak. Penganiayaan Saulus terhadap orang Kristen jelas tidak tanggung-tanggung; itu adalah rencana yang disengaja dan berkelanjutan untuk memusnahkan iman Kristen.
Lihatlah tiga gambaran mengenai pertobatan Saulus (Kis. 9:1-18; 22:6-21]; dan 26: 12-19). Apakah peran kasih karunia Allah dalam pengalaman tersebut? Dengan kata lain, seberapa layakkah Saulus menerima kebaikan yang Tuhan tunjukkan padanya? 
Dari sudut pandang manusia, pertobatan Saulus pasti tampak mustahil (karena itu banyak muncul keraguraguan ketika mereka pertama kali mendengar tentang hal itu). 
Satu-satunya yang Saulus pantas terima adalah hukuman, tetapi sebagai gantinya, Tuhan memberikan kasih. karunia kepada orang Yahudi yang sungguh-sungguh ini. Namun, panting untuk dicatat, bahwa pertobatan Saulus tidak tecjadi secara terpaksa. 
Saulus bukan seorang ateis. Dia adalah orang yang beragama, meskipun sangat keliru dalam pemahaman tentang Allah. Kata-kata Yesus kepada Paulus: “Sukar bagimu menendang ke galah rangsang” (Kis. 26:14), mengindikaskan bahwa Roh telah meyakinkan Saulus. Dalam dunia kuno, sebatang “galah rangsang” merupakan tongkat dengan ujung yang tajam yang digunakan untuk mendorong lembu setiap kali mereka menolak membajak. Saulus telah menolak dorongan Allah untuk beberapa waktu, tetapi akhirnya dalam perjalanan ke Damsyik, melalui pertemuan yang ajaib dengan Yesus yang telah bangkit, Saulus memilih untuk tidak melawan lagi. 
Pikirkan kembali tentang pengalaman pertobatan Anda sendiri. Mungkin itu tidak sedramatis pertobatan Paulus, tetapi dengan cara yang sama apakah Anda merupakan penerima kasih karunia Allah? Mengapakah penting untuk tidak pernah melupakan apa yang telah diberikan kepada kita dalam Kristus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...