Kamis, 29 Juni 2017
Konflik Dalam Gereja
Tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna, maka tidak lama, masalah pun mulai muncul dalam persekutuan umat percaya mula-mula.
Awalnya, tidak semua orang senang dengan masuknya orang percaya bukan Yahudi ke dalam gereja mula-mula. Perselisihan itu bukannya mengenai konsep misi kepada bukan Yahudi, tapi mengenai dasar atas mana bangsa-bangsa lain harus diizinkan untuk bergabung. Sebagian orang merasa bahwa iman pada Yesus saja tidak cukup sebagai tanda pengenal orang Kristen; menurut mereka iman harus dilengkapi dengan sunat dan penurutan kepada hukum Musa. Mereka menegaskan, untuk menjadi scorang Kristen sejati, bangsa-bangsa Iain perlu disunat. (Dalam Kis. 10:1-11:18, kita dapat melihat sejauh mana pembagian antara bangsa Yahudi dan bukan Yahudi melalui pengalaman Petrus dengan Kornelius dan reaksi yang terjadi kemudian.)
Kunjungan resmi dari Yerusalem, yang memantau pekerjaan Filipus di antara orang-orang Samaria (Kis. 8:14) dan pekerjaan lnjil kepada bangsa-bangsa lain di Antiokhia (Kis. 11 :22), dapat menimbulkan beberapa kekhawatiran perihal masuknya bukan Yahudi dalam komunitas Kristen. Namun, reaksi terhadap baptisan Petrus atas Kornelius, seorang tentara Romawi yang tidak bersunat, adalah contoh yang jelas dari perselisihan yang muncul yang meragukan keberadaan bukan Yahudi di antara orang-orang percaya mula-mula. Masuknya orang bukan Yahudi seperti Kornelius mungkin telah menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang, tetapi upaya Paulus yang sungguh-sungguh untuk membuka lebar-lebar pintu gereja bagi bangsa-bangsa lain atas dasar iman di dalam Yesus saja, mengakibatkan upaya yang sengaja dari beberapa orang untuk melemahkan pelayanan Paulus.
Bagaimanakah orang percaya tertentu dari Yudea mencoba untuk melawan pekerjaan Paulus bagi orang Kristen bukan Yahudi di Antiokhia? Kis 15:1-5
Meskipun Rapat Yerusalem yang membahas soal sunat, dalam Kis. 15, akhirnya berpihak pada Paulus, perlawanan terhadap pelayanan Paulus terus berlanjut. Sekitar tujuh tahun kemudian, pada saat kunjungan terakhir Paulus ke Yerusalem, banyak yang masih curiga mengenai Injil Paulus. Bahkan, ketika Paulus mengunjungi bait suci, dia hampir kehilangan nyawanya ketika orang Yahudi dari Asia berteriak “Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat Suci ini!” (Kis 21:28; Iihat juga 21:20-21).
Tempatkanlah diri Anda pada posisi orang percaya Yahudi yang khawatir tentang ajaran Paulus. Mengapakah kekhawatiran dan perlawanan mereka sepertinya masuk akal? Apakah yang bisa kita pelajari dari hal ini tentang bagaimana prasangka kita sehdiri, serta pemahaman budaya (dan bahkan agama), dapat menyesatkan kita? Bagaimanakah kita bisa belajar untuk melindungi diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama, tanpa memandang seberapa baik niat kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar