Senin, 19 Juni 2017
Batu : Yesus Kristus
“Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku”
(Ulangan 3:26)
Ada beberapa alasan mengapa tindakan Musa membuat Tuhan marah. Yang pertama adalah anggapan bahwa kemanusiaannyalah yang membuat air muncul dari batu yang tandus. Katanya: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10). Menyombongkan kekuatan yang hanya milik Allah kesalahan mendasar.
Kesalahn Musa dalam hal ini, bukanlah ciri khas perilaku terhadap bangsa itu selama bertahun-tahun pengembaraan. Dia secara konsisten dan dengan benar menganggap semua kekuatan yang membawa Israel kepada kebebasanya berasal dari Allah. Tetapi sekarang, dengan terburu-buru dan sikap melecehkan, ia kehilangan prespektif dan sayangnya ia mengambil semua masalah ke tangannya sendiri, menyangkal Allah, saksi yang kuat untuk kemuliaan-Nya.
Alasan kedua adalah bahwa ia memukul batu sebagai ganti berbicara kepadanya. Instruksinya adalah “Ambillah tongkatmu itu dan engaku dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engaku mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya” (ayat 8).
Fakta bahwa ia memukuli batu sama sekali adalah tindakan ketidaktaatan yang serius, bahkan ia memukulnya dua kali, sehingga sekali lagi merampok kemuliaan Allah karena nama-Nya. Yesus, Batu Zaman, yang dari-Nya akan mengalir air keselamatan, terpukul kalah sekali. Kitab Ibrani kemudian mencatat dengan ringkas: “Demikianlah pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang” (Ibr. 9:28).
Hukum Musa yang berat (tidak diperbolehkan masuk ke Kanaan) adalah pengingat yang berharga untuk bangsa Israel kuno dan kita yang melakukan pekerjaan Tuhan yang menuntut ketaatan eksplisit terhadap perintah-Nya dan kepercayaan yang kuat dalam metodologi-Nya. Hal ini berlaku baik dalam urusan pribadi kita maupun dalam pekerjaan kelembagaan yang Dia urapi. Jika saja Musa berbicara dengan batu itu, air yang diberikannya akan begitu manis dan menyegarkan, dan ia akan memasuki Kanaan dengan bangsa itu. Kualitas berkat kita dan kesempatan kita untuk masuk ke dalam Kanaan surgawi tidak kurang tergantung pada penyerahan diri dan pelayanan kepada orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar