Selasa, 20 Juni 2017
Harapan pada Kedatangan Kedua
Bacalah ayat-ayat berikut, dan perhatikanlah apa yang dikatakannya mengenai peristiwa-peristiwa di masa depan:
1 Ptr. 1:4
1 Ptr. 1:17
1 Ptr. 4:5, 6
1 Ptr. 4:17
2 Ptr. 3:1–10
Salah satu isu mendasar yang dihadapi oleh mereka yang pertama kali membaca dan mendengar surat 1 Petrus adalah penganiayaan. Petrus memberikan penghiburan kepada para pembacanya dengan pemikiran bahwa, sekalipun hidup mereka dihantam aniaya, ada upah di masa depan yang menanti mereka di surga, upah yang tidak dapat diambil. Pada permulaan kitab 1 Petrus, ia menjelaskan bahwa umat Kristen memiliki suatu bagian yang tidak dapat binasa yang tersimpan di surga bagi mereka (1 Ptr. 1:4).
Petrus menyoroti dua hal yang akan terjadi di kemudian hari: Penghakiman terakhir dan api kebinasaan bagi orang-orang fasik. Dengan kata lain, ia menunjukkan bahwa walaupun menghadapi aniaya sekarang ini, keadilan dan penghakiman akan terjadi, dan umat percaya akan menerima upah mereka yang kekal.
Petrus menyebutkan penghakiman pada tiga kesempatan berbeda (1 Ptr. 1:17; 4:5, 6, 17). Ia mengatakan bahwa Allah Bapa menghakimi semua orang menurut perbuatannya tanpa memandang muka (1 Ptr. 1:17). Ia mencatat bahwa Yesus sendiri siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati (1 Ptr. 4:5). Ia juga membuat pengamatan yang menarik bahwa penghakiman dimulai dari umat Allah sendiri (1 Ptr. 4:17).
Petrus juga menekankan bahwa “orang-orang fasik” akan dibinasakan dengan nyala api seluruhnya (2 Ptr. 3:7).
Petrus meluangkan waktu menguraikan masalah yang muncul tentang apakah benar atau tidak Yesus pasti datang kembali (2 Ptr. 3:1-10). Dia menunjukkan bahwa “penundaan” kedatangan Yesus kedua adalah untuk memungkinkan lebih banyak orang bertobat dan diselamatkan. Dia juga menunjukkan bahwa kepastian perhitungan akan masa depan seharusnya meyakinkan semua orang untuk hidup suci dan saleh.
Dengan demikian, sekalipun Petrus berfokus pada keadaan saat ini dan pada kehidupan Kristiani praktis, tetap saja bagi pembacanya dia perhatikan harapan mereka di masa depan yang menanti mereka. Singkatnya, bagaimanapun keadaan saat itu, mereka harus terus maju ke depan dalam iman dan penurutan. Mengapakah Anda juga harus terus maju dalam iman dan penurutan, bagaimanapun keadaannya? Apakah ada pilihan lain?
1 Ptr. 1:4
1 Ptr. 1:17
1 Ptr. 4:5, 6
1 Ptr. 4:17
2 Ptr. 3:1–10
Salah satu isu mendasar yang dihadapi oleh mereka yang pertama kali membaca dan mendengar surat 1 Petrus adalah penganiayaan. Petrus memberikan penghiburan kepada para pembacanya dengan pemikiran bahwa, sekalipun hidup mereka dihantam aniaya, ada upah di masa depan yang menanti mereka di surga, upah yang tidak dapat diambil. Pada permulaan kitab 1 Petrus, ia menjelaskan bahwa umat Kristen memiliki suatu bagian yang tidak dapat binasa yang tersimpan di surga bagi mereka (1 Ptr. 1:4).
Petrus menyoroti dua hal yang akan terjadi di kemudian hari: Penghakiman terakhir dan api kebinasaan bagi orang-orang fasik. Dengan kata lain, ia menunjukkan bahwa walaupun menghadapi aniaya sekarang ini, keadilan dan penghakiman akan terjadi, dan umat percaya akan menerima upah mereka yang kekal.
Petrus menyebutkan penghakiman pada tiga kesempatan berbeda (1 Ptr. 1:17; 4:5, 6, 17). Ia mengatakan bahwa Allah Bapa menghakimi semua orang menurut perbuatannya tanpa memandang muka (1 Ptr. 1:17). Ia mencatat bahwa Yesus sendiri siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati (1 Ptr. 4:5). Ia juga membuat pengamatan yang menarik bahwa penghakiman dimulai dari umat Allah sendiri (1 Ptr. 4:17).
Petrus juga menekankan bahwa “orang-orang fasik” akan dibinasakan dengan nyala api seluruhnya (2 Ptr. 3:7).
Petrus meluangkan waktu menguraikan masalah yang muncul tentang apakah benar atau tidak Yesus pasti datang kembali (2 Ptr. 3:1-10). Dia menunjukkan bahwa “penundaan” kedatangan Yesus kedua adalah untuk memungkinkan lebih banyak orang bertobat dan diselamatkan. Dia juga menunjukkan bahwa kepastian perhitungan akan masa depan seharusnya meyakinkan semua orang untuk hidup suci dan saleh.
Dengan demikian, sekalipun Petrus berfokus pada keadaan saat ini dan pada kehidupan Kristiani praktis, tetap saja bagi pembacanya dia perhatikan harapan mereka di masa depan yang menanti mereka. Singkatnya, bagaimanapun keadaan saat itu, mereka harus terus maju ke depan dalam iman dan penurutan. Mengapakah Anda juga harus terus maju dalam iman dan penurutan, bagaimanapun keadaannya? Apakah ada pilihan lain?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar