Rabu, 31 Mei 2017

RENUNGAN PAGI

Rabu, 31 Mei 2017
Berdiam Dihadapan-Nya
 
Habakuk 2: 20
”Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi!” 
 
Postur tubuh ciptaan yang tepat dalam menyembah Sang Pencipta adalah dengan penghormatan yang rendah hati. Penyembahan yang penuh hormat mengekspresikan dirinya dengan berbagai cara dari budaya ke budaya dan bahkan dari satu budaya dari zaman ke zaman. Tetapi dalam semua budaya dan seluruh zaman, peyembahan penuh hormat yang benar dituntut di hadapan Allah Mahakuasa, Mahatahu, Mahahadir, Mahasanggup, dan Allah yang kekal.
 
Tetapi apakah Habakuk membantah sebagai contoh Alkitab mengenai perayaan dan pujian yang penuh sukacita yang tidak menuntut keheningan dalam kesunyiaan? Bukankah Miriam menari di hadapan Tuhan? (Kel. 15:20). Bukankah Daud, selain menari, menggunakan alat musik yang nyaring dalam pujian (2 Sam. 6:14)? Dan bukankah Alkitab menyatakan bahwa ketika kita datang ke hadapan Tuhan kita harus mengangkat suara kita seperti sangkakala dalam menyatakan firman-Nya     (Yes. 58:1)?
 
Ya, tetapi tidak ada kontradiksi. “Tarian kebebasan” Miriam terjadi di pantai Laut Merah, tidak dalam lingkungan Bait Suci Allah. Daud menari di jalanan Yerusalem saat ia dan rakyatnya bersukacita atas kemenangan dalam pertempuran, bukan saat beribadah di pelataran  luar bait suci yang dihormati. Dan suara yang didengar Yohanes di Pulau Patmos berbicara seperti sangkakala itu bukanlah suara yang berisik, melengking, yang secara emosional memerintah Allah (WHY. 1:10); tidak pernah Alkitab mengendurkan pembatasan atau rasa hormat kita terhadap Allah ketika kita berkumpul dalam ibadah di bait suci. Kerendahan hati Yesaya “Celakalah aku! Aku binasa!” (Yes. 6:5) merupakan postur yang jauh lebih masuk akal dalam pengalaman ibadah yang Ilahi daripada tarian perayaan Miriam dan Daud.
 
Nabi kita mengingatkan kita bahwa: “Saat Firman Tuhan berbicara kepada orang Ibrani… perintah-Nya adalah: ‘Dan biarlah semua orang mengatakan Amin”’ ; bahwa “ada terlalu banyak formalitas dalam pelayanan keagamaan kita”; bahwa para pendeta-Nya harus berbicara dengan “dikuasai oleh Roh Kudus-Nya”; bahwa dalam pengalaman ibadah  ucapan syukur gereja akan terdengar “tanggapan yang penuh sukacita, hangat dan kata-kata pujian yang menyenangkan” (Testimonies for the Church, jld. 5, hlm. 318).
  
Ketika mengingat bahwa saksi utama dalam semua pelayanan ibadah kita adalah Allah sendiri dan bahwa hiburan dan pertunjukkan seperti itu tidak memiliki tempat di rumah Allah tanggapan kita akan semakin tulus dan antusias sementara bentuknya juga sesuai.

TUHAN YESUS Memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...