Selasa, 30 Mei 2017

RENUNGAN PAGI

Selasa, 30 Mei 2017
Penglihatan Dalam Bait Suci
“Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia telah bisu” (Lukas 1: 22)
Kisah pengalaman Zakharia di bait suci memberikan kepada kita sejumlah pelajaran berharga. Pertama, kita belajar dari ayat sebelumnya bahwa ia “tidak bercacat” (ayat 6). Kedua, ketika dikunjungi oleh malaikat, ia setia menjalankan tugasnya di bait suci. Ketiga, bahwa di dalam bait sucilah ia menerima kabar menakjubkan bahwa isterinya di usianya yang lanjut akan melahirkan seorang anak laki-laki.
Ketiga unsur pengalamannya tersebut menyampaikan makna yang penuh arti kepada kita sekarang ini. Pertama, jika kita juga ingin digunakan, kita harus tidak bercacat di hadapan Allah. Tetapi menjadi tidak bercacat bukan berarti tanpa kesalahan. Melainkan, tanpa cacat berarti bahwa semua dosa kita diampuni, bahwa semua kejahatan kita di tutupi oleh darah Yesus, dan bahwa jubah kebenaran Kristus menyembunyikan kita. Hal itu bukanlah kehidupan kita, melainkan kehidupan-Nya yang meliputi membuat kita tak bercacat.
Kedua, anak Allah yang sejati hanya mengampuni dan menutup, tetapi juga melayani dalam memenuhi tugas-Nya dengan setia. Kita tahu bahwa adalah mungkin karena Dia yang mengatakan “pergilah ke seluruh dunia” (Mrk. 16:15) dan “setia sampai mati” (Why. 2:10) juga berjanji: “Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
Aplikasi terakhir pengalaman Zakharia di bait suci adalah bahwa sering terjadi, sementara menyembah di bait suci, kita menerima pesan Tuhan tentang kehendak-Nya bagi hidup kita. Kadang-kadang sambil duduk dalam meditasi yang tenang, kadang-kadang dipengaruhi dengan alunan musik sakral, atau kadang-kadang ketika sibuk menjalankan tugas sehari-hari, kita mendengar dari Dia peringatan dan dorongan yang mengarahkan kita dalam pelayanan dan kesalehan hidup.
Kitab Kisah Para Rasul mengingatkan kita bahwa orang-orang kepada siapa Pentakosta turun “mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah” )Kis. 2:46). Hal ini mungkin secara fisik tidak memungkinkan bagi kita sekarang ini. Tetapi mereka tidak “menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita” (Ibr. 10:25) memaksimalkan pertemuan di mana kehendak Allah diperkenalkan dan meminimalkan upaya setan untuk menangkap, merusak, dan mencemari bait suci manusia kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...