Pelajaran Sekolah Sabat Dewasa
Rabu, 31 Mei 2017
Semakin Diteguhkan oleh Kata Nubuatan
Bacalah 2 Petrus 1:19-21. Nubuatan manakah yang Petrus maksudkan? Apakah yang dimaksudkannya ketika ia katakan bahwa tidak boleh nubuatan Kitab Suci ditafsirkan menurut kehendak sendiri?
Ketika menekankan bahwa Kekristenan tidak didasarkan pada dongeng isapan jempol manusia (2 Ptr. 1:16), Petrus menawarkan dua bukti: Pertama, saksi mata; (2 Ptr. 1:16-18); kedua, nubuatan Kitab Suci (2 Ptr. 1:19-21), suatu alasan yang digunakannya sebelumnya (1 Ptr. 1:10-12).
Petrus juga menyatakan bahwa “nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri” (2 Ptr. 1:20). Dengan mengatakan hal ini, Petrus tidak melarang kita untuk mempelajari Alkitab bagi diri sendiri. Jauh sekali dari pikiran seseorang yang telah mengatakan, dalam 1 Petrus 1:13, “siapkanlah akal budimu” atau “hendaklah kalian siap siaga.” Tidak juga demikian yang dimaksudkan oleh dia yang memuji nabi-nabi dahulu atas ketekunan mereka menyelidiki makna nubuat-nubuat yang telah diberikan kepada mereka (1 Ptr. 1:10).
Lalu apakah yang Petrus maksudkan? Gereja Perjanjian Baru berkembang bersama dan belajar bersama. Orang Kristen adalah bagian tubuh yang lebih besar (1 Kor. 12:12-14). Dan di sini Petrus memberikan peringatan terhadap jenis pembelajaran jika seseorang menolak pemahaman komunitas orang percaya. Di dalam berinteraksi dengan orang lain kita dapat tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas. Roh itu bekerja dengan komunitas dan pribadi-pribadi di dalamnya. Pendapat kita dapat dibagi, diluruskan, dan diperdalam. Tetapi orang yang belajar sendiri, menolak masukan dari orang lain, kemungkinan akan membuat penafsiran yang salah, terutama yang menyangkut nubuatan.
Dalam ayat-ayat berikut kita akan mendapatkan alasan mengapa Petrus membuat pengamatan ini. Dia sedang menulis surat kepada orang Kristen yang di antara mereka terdapat nabi-nabi palsu dan guru-guru palsu (2 Ptr. 2:1). Petrus mendesak mereka untuk menyampaikan penafsiran mereka tentang Kitab Suci kepada pimpinan jemaat secara keseluruhan. Berapa banyakkah orang yang telah hanyut dalam fanatisme dan kesalahan karena mereka menolak untuk mengindahkan nasihat dari komunitas orang percaya yang dituntun Roh? Hal itu berbahaya waktu lalu, dan demikian juga sekarang ini.
Mengapakah begitu penting untuk terbuka menerima nasihat dan pendapat gereja secara umum? Saat yang sama, apakah batasannya mengenai seberapa jauh kita dapat mendengarkan pendapat orang lain?
TUHAN MEMBERKATI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar