Jumat, 09 Februari 2018

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA

Jumat, 9 Februari 2018
Pendalaman: Ciri lain penatalayan yang baik adalah akuntabilitas pribadi. “Telah menjadi rencana Setan selalu untuk menarik pikiran orang banyak dari Yesus kepada manusia, dan membinasakan tanggung jawab perorangan. Setan gagal dalam rencananya ketika ia mencobai Anak Allah; tetapi ia berhasil lebih baik ketika ia datang kepada manusia yang jatuh. Kekristenan menjadi bejat.”—Ellen G. White, Tulisan-tulisan Permulaan, hlm. 372.
Dengan Kristus pada pusat keberadaan kita, kita terbuka kepada tuntunan-Nya. Sebagai hasilnya, iman kita, kesetiaan, ketaatan, hati nurani yang bersih, dapat dipercaya, dan akuntabilitas pribadi akan terlihat dalam kehidupan kita. Maka, sebagai penatalayan, kita dijadikan sempurna di dalam tangan Allah (Mzm. 139:23, 24).
Akuntabilitas pribadi merupakan prinsip Alkitab yang penting. Sementara berada di bumi, Yesus secara pribadi bertanggung jawab kepada Bapa (Yoh. 8:28). Kita bertanggung jawab untuk setiap kata sia-sia (Mat. 12:36). “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48). Sungguh, ancaman terbesar kepada akuntabilitas pribadi adalah untuk memindahkan tanggung jawab kepada orang lain. “Biarlah diingat bahwa itu bukanlah milik kita sendiri yang dipercayakan kepada kita sebagai investasi. Jika itu yang terjadi, kita mungkin menuntut kebebasan kekuasaan; kita mungkin mengalihkan tanggung jawab kita pada orang lain, dan meninggalkan penatalayan kita dengan mereka. Tetapi ini tidak bisa terjadi, karena Tuhan telah menjadikan kita penatalayan-Nya secara individu.—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 7, hlm. 177.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
1.Lihat pada semua ciri-ciri penatalayan berbeda yang kita telah pelajari pekan ini: Akuntabilitas pribadi, dapat dipercaya, ketaatan, loyalitas, hati nurani bersih, dan kesetiaan. Bagaimanakah hal-hal ini berhubungan satu sama lain? Bagaimanakah kelambanan dalam satu bidang akan mengakibatkan kelambanan pada bidang lainnya? Atau bagaimanakah kepatuhan yang teguh pada satu bidang dapat menuntun kepada kepatuhan yang teguh pada bidang lainnya?
2.Dalamilah lebih lanjut akan bagaimana janji-janji Injil dapat menolong mereka yang bergumul dengan rasa bersalah. Apakah janji-janji yang mereka bisa tuntut?
3.Kita sering melihat konsep “loyalitas” baik di dalam dan dari dirinya sendiri. Tetapi apakah itu selalu begitu? Dalam hal apa adalah mungkin untuk menjadi loyal kepada seseorang atau sesuatu yang tidak baik? Kemudian, mengapakah, konsep “loyalitas” selalu dipahami dalam konteks tertentu untuk melihat apakah loyalitas itu baik atau salah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...