Minggu, 04 Februari 2018

PELAJARAN SEKOLAH SABAT DEWASA

Minggu, 4 Februari 2018
“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Kor. 4:2). Bertanding dan memenangkan “pertandingan iman yang benar” (1 Tim. 6:12) adalah penting bagi seorang penatalayan yang setia. “Setia” itulah Allah dan menjadi apa kita melalui Dia yang bekerja di dalam kita. Menjadi setia berarti tetap setia kepada apa yang kita tahu benar, khususnya dalam panasnya pertempuran rohani.
Pertentangan rohani antara benar dan salah, baik dan jahat, pasti akan datang. Hal itu adalah bagian dari pertempuran iman. Keputusan yang menandai penatalayan dalam setiap situasi adalah pilihan untuk menjadi setia. Jika Anda mencintai kekayaan, pastikan untuk tetap setia kepada Allah dan apa yang Dia katakan tentang bahaya cinta akan uang. Jika Anda mendambakan ketenaran, tetaplah setia kepada apa yang Firman Allah katakan tentang kerendahan hati. Jika Anda bergumul dengan pikiran penuh nafsu, tetaplah setia kepada janji-janji kekudusan. Jika Anda menginginkan kekuasaan, tetaplah setia kepada apa yang Allah katakan tentang menjadi hamba semua. Keputusan untuk setia dan tidak setia sering dibuat dalam hitungan detik, bahkan jika konsekuensinya bisa selama-selamanya.
Bacalah Ibrani 11:8-12, 17-19, dan Roma 4:13, 18-21. Apakah yang diajarkan ayat-ayat ini kepada kita tentang menjadi setia?
Ibrani 11:8-11; 17-19, 8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. 11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. 11:17 Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,18 walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu."19 Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.
Roma 4:13, Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
Roma 4:18-21 "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Dalam bahasa Ibrani “setia” berarti memercayai. Akar bahasa Ibrani yang sama memberi kita kata “amin,” dan itu benar-benar berarti menjadi “kuat” atau “teguh.” Kesetiaan berarti kita telah diuji dan dicoba, dan telah tetap teguh berkomitmen kepada rencana Allah.
Mempersiapkan diri untuk berbicara di hadapan Kaisar, reformator Martin Luther “membaca Firman Allah, melihat pada tulisannya, dan berusaha untuk menyusun jawabannya dalam bentuk yang sesuai.... Dia mendekati Kitab Suci... dan dengan emosi menempatkan tangan kirinya pada jilid yang suci itu, dan mengangkat tangan kanannya ke langit, bersumpah untuk tetap setia kepada Injil, dan bebas untuk mengakui imannya, bahkan ia harus menutup kesaksiannya dengan darahnya sendiri.”—J. H. Merle d’Aubigné, History of the Reformation (New York: The American Tract Society, 1846), jld. 2, Buku 7, hlm. 260.
Bacalah Wahyu 2:10. Apakah seharusnya makna kata-kata tentang menjadi “setia sampai mati” bagi kita dalam perjalanan kita setiap hari dengan Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...