Minggu, 11 Juni 2017
Garis Kewenangan
Petrus memperingatkan pembacanya mengenai sifat ajaran-ajaran berbahaya yang gereja akan hadapi. Dia memperingatkan terhadap mereka yang, ketika menjanjikan kebebasan, akan menuntun orang kembali kepada perhambaan dosa, lawan dari kemerdekaan yang telah dijanjikan kepada kita di dalam Kristus.
Sayangnya, bukan hal ini saja ajaran sesat yang akan menghantam gereja. Suatu bahaya lain akan terjadi. Namun, sebelum Petrus tiba pada peringatan hal ini secara khusus, dia mengatakan hal yang lain dulu.
“Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (2 Ptr. 3:1-2).
Apakah inti yang Petrus buat di sini mengenai mengapa pembacanya harus memperhatikan pada apa yang ditulisnya? Lihat juga Yohanes 21:15-17.
Dalam 2 Petrus 3:1, 2, Petrus mengingatkan mereka akan perkataan yang diinspirasikan yang telah datang dahulu melalui “nabi-nabi kudus.” Dengan demikian, dia sekali lagi mengarahkan mereka untuk kembali ke Kitab Suci, ke Perjanjian Lama. Ia memperingatkan mereka bahwa mereka supaya “diteguhkan oleh firman” (2 Ptr. 1:19). Dia mau agar jelas bahwa keyakinan mereka didasarkan pada Firman Allah. Tidak ada di dalam Perjanjian Baru membenarkan pendapat bahwa Perjanjian Lama itu tidak lagi mengikat atau kurang penting. Sebaliknya, Perjanjian Baru adalah kesaksian akan Perjanjian Lama yang menolong untuk meletakkan dasar keabsahan akan Perjanjian Baru dan pernyataan yang Petrus buat mengenai Yesus.
Namun masih ada lagi. Petrus kemudian menekankan garis yang jelas dari “nabi-nabi kudus” Perjanjian Lama kepada kewenangannya sendiri sebagai seorang dari “rasul-rasul Tuhan dan Juruselamat.” Ia yakin sepenuhnya mengenai panggilan yang diterimanya dari Tuhan untuk melakukan apa yang sedang ia lakukan. Tidak heran bila dia berbicara dengan suatu keyakinan dan kepastian. Dia tahu sumber pekabarannya.
Mengapakah Firman Tuhan itu yang harus, dan bukan budaya atau pertimbangan atau pemikiran kita sendiri, menjadi penguasa utama di dalam kehidupan kita? (Bagaimanapun, mengapakah kita juga memelihara Sabat Hari Ketujuh kalau bukan karena itu adalah Firman Allah?)
Sayangnya, bukan hal ini saja ajaran sesat yang akan menghantam gereja. Suatu bahaya lain akan terjadi. Namun, sebelum Petrus tiba pada peringatan hal ini secara khusus, dia mengatakan hal yang lain dulu.
“Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. (2 Ptr. 3:1-2).
Apakah inti yang Petrus buat di sini mengenai mengapa pembacanya harus memperhatikan pada apa yang ditulisnya? Lihat juga Yohanes 21:15-17.
Dalam 2 Petrus 3:1, 2, Petrus mengingatkan mereka akan perkataan yang diinspirasikan yang telah datang dahulu melalui “nabi-nabi kudus.” Dengan demikian, dia sekali lagi mengarahkan mereka untuk kembali ke Kitab Suci, ke Perjanjian Lama. Ia memperingatkan mereka bahwa mereka supaya “diteguhkan oleh firman” (2 Ptr. 1:19). Dia mau agar jelas bahwa keyakinan mereka didasarkan pada Firman Allah. Tidak ada di dalam Perjanjian Baru membenarkan pendapat bahwa Perjanjian Lama itu tidak lagi mengikat atau kurang penting. Sebaliknya, Perjanjian Baru adalah kesaksian akan Perjanjian Lama yang menolong untuk meletakkan dasar keabsahan akan Perjanjian Baru dan pernyataan yang Petrus buat mengenai Yesus.
Namun masih ada lagi. Petrus kemudian menekankan garis yang jelas dari “nabi-nabi kudus” Perjanjian Lama kepada kewenangannya sendiri sebagai seorang dari “rasul-rasul Tuhan dan Juruselamat.” Ia yakin sepenuhnya mengenai panggilan yang diterimanya dari Tuhan untuk melakukan apa yang sedang ia lakukan. Tidak heran bila dia berbicara dengan suatu keyakinan dan kepastian. Dia tahu sumber pekabarannya.
Mengapakah Firman Tuhan itu yang harus, dan bukan budaya atau pertimbangan atau pemikiran kita sendiri, menjadi penguasa utama di dalam kehidupan kita? (Bagaimanapun, mengapakah kita juga memelihara Sabat Hari Ketujuh kalau bukan karena itu adalah Firman Allah?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar