Jumat, 23 Juni 2017

RENUNGAN PAGI

Selasa, 20 Juni 2017
LIHAT DAN HIDUP
Bilangan 27:9
“Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup" 
Upah dosa adalah maut, dan sejak dari permulaan pelanggaran, umat manusia telah dikunci dalam ragam rasa sakit, pertumpahan darah, dan segala elemen bencana lain yang merupakan ketidaknyamanan yang baik yang Allah ciptakan. 
Pengharapan? Tidak ada pengharapan-pengharapan duniawi. Adam tidak bisa mencegah wabah kematian dan kehancuran, tidak juga dengan anak cucunya yang menderita. Umat manusia, berdasarkan kejatuhannya, adalah benar-benar, selamanya terkutuk. Kita adalah ras yang ditakdirkan untuk punah. Jika saja Kristus tidak datang ke dunia kita seperti yang Dia lakukan, keadaan fisik, moral, dan mental kita akan segera jauh lebih lumpuh dan akhirnya binasa. 

Kita bukanlah ras yang ditakdirkan untuk hidup dalam pertumpahan darah dan rasa sakit; kita adalah umat yang pasti akan mati-tersedak tak bernyawa oleh ikatan otot sebagai konsekuensi dosa. Hal ini membuat tanggungan ganda: Kematian pertama akibat dari kelahiran alamiah kita dan yang kedua sebagai akibat dari kesalahan pribadi kita. 

Tetapi Yesus “membungkamkan musuh dan pendendam,” (lihat Mzm. 8:2). Seperti halnya ular Musa yang menjadi titik temu yang kepadanya semua orang yang digigit ular-yang sekarat oleh karena kelenjar bengkak dan gagal jantung-dapat memandang dan dibuat pulih kembali, demikian juga kesehatan dan kesembuhan disediakan di kayu salib untuk semua orang yang mau melihat dan hidup. 

Ular Musa yang disalibkan adalah sumber keselamatan hanya kepada mereka yang melihat dalam iman. Mereka yang didapati berpikir secara ilmiah, filosofis, atau yang lainnya, yang memiliki alasan teoritis untuk meragukan khasiat salib di mana terdapat simbol dari makhluk yang melanda mereka mati karena utangnya iman. Mereka yang memandangnya-hidup! Dan demikian juga kita jika kita tetap setia dan tidak takut. 

Sebagaimana ular tembaga yang tampak seperti yang lainnya tetapi berdasarkan komposisi logamnya ia menanggung beban yang berbeda, demikian juga dengan Yesus yang datang “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (Rm 8:3) oleh keilahian-Nya yang tidak mengenal kompromi dan kemanusiaan-Nya yang tidak terkontaminasi berbeda dari manusia berdosa. Inilah sebabnya mengapa dan bagaimana kita dapat dan harus melihat kepada Kristus di Golgota yang disalibkan dengan tangan terbuka sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, kesembuhandan kekudusan kita. 

PELAJARAN SEKOLAH SABAT

Senin, 19 Juni 2017
Bagaimanakah Kita Harus Hidup?
Suatu tema yang lebih sering Petrus ulang-ulangi daripada yang lain dinyatakan dengan pertanyaan yang ditanyakannya dalam 2 Petrus 3:11: “Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” 

Bacalah ayat-ayat berikut. Apakah yang Petrus katakan mengenai perilaku Kristiani? 1 Ptr. 1:15–17, 22; 1 Ptr. 2:1; 1 Ptr. 3:8, 9; 1 Ptr. 4:7–11; 2 Ptr. 3:11. 

Petrus mengkaji perilaku Kristiani beberapa kali dalam dua suratnya, dan beberapa tema [yang lain] terus berulang. Pertama, Petrus dua kali menekankan hubungan antara penghakiman Allah dan perilaku orang Kristen (1 Ptr. 1:17 dan 2 Ptr. 3:11). Allah akan menghakimi tindakan setiap orang. Dengan demikian, seorang Kristen harus hidup kudus. 

Kedua, beberapa kali Petrus menyebutkan bahwa orang Kristen harus kudus. Dalam Alkitab Bahasa Ibrani [Perjanjian Lama], hal-hal yang kudus itu dikhususkan untuk digunakan di Bait Allah (Kel. 26:34; 28:36; 29:6, 37) atau untuk maksud Allah (misalnya, hari Sabat dalam Kejadian 2:3). Bahkan, rencana Allah adalah bahwa umat-Nya haruslah kudus, sama seperti Dia adalah kudus, suatu tema yang disentuh Petrus juga (Im. 11:44; 19:2; 1 Ptr. 1:15, 16). Proses mengkhususkan sesuatu itu kudus disebut “penyucian,” dan keinginan Petrus adalah bahwa pembacanya dikuduskan oleh Roh dan taat kepada Yesus (1 Ptr. 1:2). 

Ketiga, Petrus telah memberikan beberapa hal spesifik untuk jenis perilaku yang sesuai bagi mereka yang dikuduskan. Mereka harus membersihkan diri dari kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, dan fitnah (1 Ptr. 2:1). Mereka harus memiliki roh kesatuan, mengasihi satu sama lain, dan merendahkan diri (1 Ptr. 3: 8, 9). Mereka harus memiliki kebaikan, kesalehan, dan kasih (2 Ptr. 1:5-7). Bahkan, mereka harus tetap mengasihi (1 Ptr. 4:7-11). Akhirnya, Petrus mendorong para pendengarnya untuk menyerahkan kekhawatiran mereka kepada Yesus (1 Ptr. 5: 7). 

Bagaimanakah kita dapat belajar untuk mendorong satu sama lain dengan cara yang tidak menghakimi, untuk menghidupkan bentuk kehidupan yang Petrus serukan di dalam surat-suratnya?

Kamis, 22 Juni 2017

PELAJARAN ALKITAB

pelajaran 5


KEALLAHAN

REVIEW:  Pelajaran Sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana Alkitab membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias dan bahwa Dia adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.
INTRODUCTION: Dalam pelajaran ini kita akan mempelajari bagaimana mungkin kita memiliki hanya SATU ALLAH sebagaimana yang dikatakan dalam Alkitab, tetapi sebagaimana yang kita telah pelajari sebelumnya bahwa Yesus juga adalah Allah?
GD-1     Dalam penciptaan Allah merujuk kepada diriNya dalam bentuk jamak. Kejadian 1:2
GD-2     Yesus berbicara tentang kesatuan-Nya dengan Bapa. Yoh 16:26-2; Yoh 14:8-10
GD-3     Kedua-duanya, Bapa dan Roh Kudus adalah satu kesatuan dengan Yesus Kristus dalam penyelamatan bagi manusia. Yoh 14:13-17. 26
GD-4     Paulus menuliskan bahwa ada tiga pribadi. Ef 4:4-6; 2 Kor 13-14
GD-5     Perintah Yesus yang terakhir juga berbicara tentang ketiga pribadi dari KeAllahan. Matt 28:18-20
GD-6     Kita jelas melihat ada tiga pribadi yang berbeda hadir pada baptisan Yesus. Matt 3:16, 17
GD-7     Banyak kali dalam Alkitab Allah menunjuk kepada diri-Nya sebagai jamak (dalam banyak terjemahan). Kej. 11:7; Kej 3:22; Yes 6:8. Kita tahu bahwa ini TIDAK menunjuk kepada malaikat. Yoh 1:3.
GD-8     Sebab ada tiga yang membawa kesaksian di sorga yaitu Bapa, Firman, dan Roh Kudus: dan ketiganya adalah satu. 1 Yoh 5:7
GD-9     Kita tidak sepenuhnya memahami Allah karena kita terbatas sebagai manusia. Ayub 11:7-9

Alkitab tidak menggunakan kata trinitas tetapi mengatakan bahwa ada tiga pribadi yang berbeda dari KeAllahan tetapi ketiganya adalah SATU.
PREVIEW:  Pelajaran selanjutnya kita akan belajar tentang ROH KUDUS.

Senin, 19 Juni 2017

PELAJARAN SEKOLAH SABAT

Minggu, 18 Juni 2017
Penderitaan, Yesus, dan Keselamatan
Bacalah ayat-ayat berikut, dan perhatikanlah apa yang masing-masing ayat ini ungkapkan tentang keselamatan:
1 Ptr. 1:2 
1 Ptr. 1:8, 9 
1 Ptr. 1:18, 19 
1 Ptr. 2:22–25 
1 Ptr. 3:18 
Ketika Petrus menyebutkan keselamatan, hal itu biasanya dalam konteks penderitaan Yesus sebagai Pengganti bagi orang berdosa. Misalnya, dalam 1 Petrus 2:22-24, ketika Petrus menulis tentang penderitaan Yesus, dia menggu-nakan bahasa yang mencerminkan Yesaya 53:5, 6, 9. “Ia [Yesus] sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya” di kayu salib dan “oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Ptr. 2:24), mengungkapkan gagasan penggantian dan pengorbanan.
Dalam kebanyakan pengorbanan yang dijelaskan dalam Kitab Suci Bahasa Ibrani [Perjanjian Lama], para pendosa membawa persembahan mereka ke Bait Suci dan meletakkan tangan mereka di atasnya. Tindakan ini secara simbolis memindahkan dosa pendosa ke hewan, yang kemudian mati menggantikan pendosa itu (Im. 4:29, 30, 33, 34; 14:10-13). Kenajisan dosa yang tertumpuk di atas mezbah disucikan dan dihapus pada Hari Pendamaian (Im. 16:16-19).
Darah pengorbanan memainkan peran penting dalam penebusan dosa. Orang Kristen telah ditebus dengan darah Yesus yang mahal (1 Ptr. 1:18, 19).
Paulus juga menyatakan ide penggantian yang sama: Yesus, yang tidak menge-nal dosa, telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:21). Sebagaimana dinyatakan dalam 1 Petrus 3:18, Kristus telah menderita karena dosa, orang benar (Yesus) bagi orang berdosa (kita).

Seperti Paulus (Rm. 3:21, 22), Petrus menekankan perlunya iman. Saat ia mengatakan kepada para pembacanya: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya... karena kamu telah mencapai tujuan iman-mu, yaitu keselamatan jiwamu”(1 Ptr. 1:8, 9). Keselamatan tidak diperoleh karena perilaku yang saleh, tetapi diberikan ketika kita percaya pada apa yang 
Yesus telah buat bagi kita dan menerima-Nya sebagai Juruselamat pribadi kita. Jaminan kita ada di dalam Dia, bukan dalam diri kita sendiri. Jika itu ada dalam diri kita sendiri, jaminan yang pasti apa yang akan kita miliki? Mengapakah Yesuslah, sebagai Pengganti Anda, Harapan Agung keselamatan itu? Kepuasan apakah yang dapat Anda peroleh dari kebenaran yang indah ini?

RENUNGAN PAGI

Senin, 19  Juni  2017
Batu : Yesus Kristus
“Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku”
(Ulangan 3:26)
Ada beberapa alasan mengapa tindakan Musa membuat Tuhan marah. Yang pertama adalah anggapan bahwa kemanusiaannyalah yang membuat air muncul dari batu yang tandus. Katanya: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (Bil. 20:10). Menyombongkan kekuatan yang hanya milik Allah kesalahan mendasar.
Kesalahn Musa dalam hal ini, bukanlah ciri khas perilaku terhadap bangsa itu selama bertahun-tahun pengembaraan. Dia secara konsisten dan dengan benar menganggap semua kekuatan yang membawa Israel kepada kebebasanya berasal dari Allah. Tetapi sekarang, dengan terburu-buru dan sikap melecehkan, ia kehilangan prespektif dan sayangnya ia mengambil semua  masalah ke tangannya sendiri, menyangkal Allah, saksi yang kuat untuk kemuliaan-Nya.
Alasan kedua adalah bahwa ia memukul batu sebagai ganti berbicara kepadanya. Instruksinya adalah “Ambillah tongkatmu itu dan engaku dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engaku mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya” (ayat 8).
Fakta bahwa ia memukuli batu sama sekali adalah tindakan ketidaktaatan yang serius, bahkan ia memukulnya dua kali, sehingga sekali lagi merampok kemuliaan Allah karena nama-Nya. Yesus, Batu Zaman, yang dari-Nya akan mengalir air keselamatan, terpukul kalah sekali.   Kitab Ibrani kemudian mencatat dengan ringkas: “Demikianlah pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang” (Ibr. 9:28).
Hukum Musa yang berat (tidak diperbolehkan masuk ke Kanaan) adalah pengingat  yang berharga untuk bangsa Israel kuno dan kita yang melakukan pekerjaan Tuhan yang menuntut ketaatan eksplisit terhadap perintah-Nya dan kepercayaan yang kuat dalam metodologi-Nya. Hal ini berlaku baik dalam urusan pribadi kita maupun dalam pekerjaan kelembagaan yang Dia urapi. Jika saja Musa berbicara dengan batu itu, air yang diberikannya akan begitu manis dan menyegarkan, dan ia akan memasuki Kanaan dengan bangsa itu. Kualitas berkat kita dan kesempatan kita untuk masuk ke dalam Kanaan surgawi tidak kurang tergantung pada penyerahan diri dan pelayanan kepada orang lain.


Minggu, 18 Juni 2017

PELAJARAN SEKOLAH SABAT

Sabtu, 17 Juni 2017
Tema Utama Dalam 1 Dan 2 Petrus
SABAT PETANG Untuk Pelajaran Pekan InI, Bacalah: Yes. 53:5, 6, 9; Im. 16:16– 19; Im. 11:44; Rm. 13:1–7; 1 Kor. 14:40; 2 Tim. 3:16.
Ayat Hafalan: Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). 

Surat Petrus yang pertama dan kedua ditulis untuk tujuan praktis. Dalam 1 Petrus, masalah utama yang Petrus tantang adalah penganiayaan yang orang Kristen hadapi. Dalam 2 Petrus, masalah utamanya adalah guru-guru palsu. Petrus menulis dengan tegas dan berwibawa saat ia berusaha untuk mendorong pembacanya serta memperingatkan mereka sehubungan dengan tantangan di hadapan mereka. 

Hal yang penting adalah bahwa Petrus merespons kedua masalah itu dalam bahasa teologis. Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan menggiring Petrus untuk memikirkan penderitaan dan kematian Yesus, yang telah menghasilkan keselamatan kita. Guru-guru palsu akan menghadapi penghukuman, yang akan berlangsung setelah Yesus datang kembali ke dunia ini. Inilah beberapa pokok pikiran yang Petrus uraikan di dalam kedua suratnya. 

Pelajaran pekan terakhir ini akan membahas lebih mendetail tentang lima pokok pikiran yang Petrus tuliskan: Penderitaan Yesus yang menghasilkan keselamatan kita; sambutan praktis kita karena mengetahui bahwa Allah akan menghakimi perbuatan kita pada penghakiman terakhir; harapan yang kita miliki dalam kedatangan Yesus yang segera; tatanan dalam masyarakat dan dalam gereja; dan peran yang Kitab Suci miliki dalam memberikan bimbingan bagi kehidupan kita. 

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 24 Juni.

RENUNGAN PAGI

Minggu, 18 Juni 2017
Yesus Dalam Kondisi Terbaik-Nya
 
“Tetapi sekarang kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu – dan jika tidak hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis”
(Keluaran 32:32).
 
Musa pastilah seorang yang suka berdoa. Bagaimanakah lagi dia bisa menanggung semua beban ini? Semua kepemimpinan penuh dengan resiko, tetapi tidak pernah ada sekelompok pengikut yang lebih sulit, lebih tidak tahu berterima kasih, lebih merasa puas diri, lebih pelupa, lebih sombong, dan lebih memberontak daripada mereka yang Musa pimpin.
 
Tidak dirugukan lagi Musa sering berdoa untuk dirinya sendiri. Untuk kekuatan, untuk daya tahan, untuk kesabaran, dan untuk semua kebajikan lain yang dibutuhkan untuk memenuhi misinya. Tetapi Dia juga terus berdoa bagi bangsanya. Meskipun mereka menuduh dengan kejam, mereka terus menerus mengeluh, mereka bersungut-sungut, mereka dengan rakus mendambakan dewa-dewa, dan kekayaan Mesir yang darinya mereka telah dilepaskan dengan cara yang ajaib – Meskipun ada rasa tidak berterima kasih yang nyata seperti dia tetap berdoa untuk bangsanya.
 
Begitu pula dengan Kristus, Musa kita yang lebih baik. Dengan sungguh-sungguh dan dengan terus menerus Dia berdoa bukan hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Dia melakukannya karena hati-Nya yang penuh kasih itu lebih terbeban  kepada kesejahteraan mereka yang kepadanya Dia datang  untuk memberi keselamatan daripada reputasi dan keselamatan-Nya sendiri. Dia “senantiasa menerima dari Bapa agar Ia dapat menyampaikannya kepada kita” (Membina Kehidupan Abadi, hlm. 100).
 
Mungkin doa-Nya yang paling penuh kasih sayang adalah untuk murid-murid-Nya sesaat menjelang kematian-Nya, Ia memohon umtuk iman dan keamanan mereka. Kata-Nya: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada kepada-Ku oleh pemberitaan mereka” (Yoh. 17:20) yang cakup kita semua.dia beroa  tidak hanya  bagi murid-murid-Nya  dan perobatan mereka, Ia berdoa untuk musuh-Nya juga. Bahkan, Ia berdoa di Golgota untuk mereka yang tidak hanya menuduh Dia secara tidak adil, tetapi juga yang bersukacita sementara hidupnya semakin surut.
 
Doa-Nya sementara Dia hampir binasa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34), adalah ungkapan yang paling tidak cinta diri yang pernah  keluar dari bibir manusia. Itu adalah contoh kasih sayang yang tak tertandingi. Ungkapan itu merupakan kebaikan yang terlalu tinggi untuk kita bisa pahami, namun sangat penting untuk kita percayai. Doa Musa bagi bangsanya memang kebajikan yang mengangumkan, tetapi itu belum – tidak akan pernah – setara dengan doa pengampunan Yesus. Yesus dalam kondisi terbaik-Nya ketika Ia berdoa bagi musuh-musuh-Nya. Dan, pada tingkatan yang sangat nyata, demikian juga dengan kita

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...