Minggu,
11 Januari 2018
Masalah Kejujuran Sederhana
Kesamaan
yang hampir kita semua miliki adalah bahwa kita tidak suka ketidakjujuran. Kita
secara khusus tidak menyukainya ketika kita melihat hal itu diwujudkan
pada orang lain. Meskipun, tidaklah mudah untuk melihat itu dalam diri kita
sendiri, dan ketika kita melakukannya, kita cenderung untuk merasionalisasi
tindakan kita, membenarkannya, mengecilkan maknanya: Oh, itu tidak buruk, itu
hanya hal kecil, tidak begitu penting. Bahkan kita mungkin menipu diri kita
sendiri, sering begitu; tetapi kita tidak pernah menipu Allah.
“Ketidakjujuran
dipraktikkan di seluruh tatanan kita, dan ini adalah penyebab suam-suam kuku
pada pihak orang yang mengaku percaya kebenaran. Me- reka tidak terhubung
dengan Kristus dan sedang menipu jiwa mereka sendiri.”—Ellen G. White, Testimonies
for the Church, jld. 4, hlm. 310.
Bacalah Lukas 16:10. Apakah prinsip penting yang Yesus
ungkapkan di sini yang seharusnya menolong kita melihat betapa pentingnya untuk
menjadi jujur, bahkan dalam “hal-hal kecil”?
Lukas 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Meskipun
Allah mengetahui persis betapa mudahnya kita bisa tidak jujur, terutama ketika
tiba pada hal-hal yang kita miliki. Oleh karena itu, Dia telah memberi kita
penangkal yang ampuh untuk ketidakjujuran dan egoisme, setidaknya ketika tiba
pada harta benda.
Bacalah Imamat 27:30 dan Maleakhi 3:8. Apakah yang
ayat-ayat ini ajarkan dan bagaimanakah bahwa apa yang disampaikan ayat-ayat ini
dapat menolong kita tetap jujur?
Imamat 27:30 Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.
Maleakhi 3:8 Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!
“Tidak
ada imbauan yang dibuat untuk ucapan syukur atau kedermawanan. Ini adalah soal
kejujuran yang sederhana. Persepuluhan adalah milik Tuhan; dan Ia memohon
supaya kita mengembalikan kepada-Nya apa yang menjadi
milik-Nya.... Jikalau kejujuran merupakan suatu prinsip kehidupan bisnis yang
penting, maka tidakkah kita harus mengakui kewajiban kita pada Allah -
kewajiban yang menggarisbawahi setiap kewajiban lain?”—Ellen G. White, Membina
Pendidikan Sejati, hlm. 126.
Akhirnya, bagaimanakah mengembalikan persepuluhan
menolong Anda mengingat siapa memiliki semua yang Anda miliki? Bagaimanapun
juga, mengapakah penting untuk tidak pernah melupakan siapa yang memiliki
seluruh harta kita?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar