Minggu, 06 Agustus 2017

RENUNGAN PAGI

Minggu, 6 Agustus 2017
Sifat Dosa
"Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu" Yehezkiel 28:74, 75).
Kehadiran dosa menjelaskan mengapa kita diasingkan dari Allah. Tetapi ba- gaimana kita menjelaskan keberadaan dosa? Kebenarannya adalah, kita ti- dak bisa. Sejauh ini, inilah yang kita tahu. Tuhan tidak menciptakan dosa; dosa adalah virus asing yang diperkenalkan setan kepada planet kita, makhluk yang di dalamnya pertama kali ditemukan dosa. Dia adalah pencetus pelanggar- an. Indikasi yang paling jelas mengenai apa yang terjadi kepada malaikat yang murtad dinyatakan dalam deskripsi Yesaya proklamasi sebelum kejatuhannya: ''.Aku hendak naik... aku hendak mendirikan takhtaku... , aku hendak duduk... hendak menyamai Yang Mahatinggi!" (Yes. 14:13, 14). Hasilnya? Lusifer bergumul dengan dirinya sendiri. Kita tidak tahu bagai- mana atau mengapa. Yang jelas, kecemburuan terhadap Kristus, Anak Allah, bertumbuh dalam dirinya yang merupakan makhluk yang sempurna dan se- makin memburuk dan semakin meluas dan meledak menjadi pemberontakan terbuka. Tindakan Lusifer, secara bervariasi digambarkan oleh para teolog sebagai keegoisan, kesombongan, tidak tahu berterima kasih, tidak menghargai, ha- wa nafsu, penyembahan berhala, kedurhakaan, pengkhianatan, pemberontak- an, kegagalan, dan yang tidak mengenai sasaran adalah, tentu saja, pembelot- an yang sesungguhn y a. H. Richard Niebuhr, dalam bukunya The Kingdom of God in America, memberikan label pada dosa sebagai "ketidaksetiaan kepada Sang Pencipta, satu-satunya yang da p at dipercaya dan suci, realitas yang penuh kasih" (him. 105). Dia benar; dosa bukan hanya tidak adanya kesetiaan kepa- da Allah yang benar, dosa adalah kesetiaan kepada seseorang atau sesuatu yang lain. Pada intinya, dosa adalah kasih yang salah arah; itu adalah kasih sayang yang asing. Yakni tunduk di hadapan allah lain, suatu tindakan yang mungkin hanya ketika, untuk alasan apa pun, kita menghargai pendapat dan kesimpul- an kita lebih tinggi daripada Firman Allah-kepuasan pribadi kita di atas pe- rintah-Nya yang objektif. Pemikiran kita yang sederhana tidak bisa menjelaskan bagaimana makhluk, terutama yang dikelilingi kerub, bisa berani menuntut kesetaraan dengan Pen- cipta-tetapi Lusifer melakukannya. Dan demikian juga kita ketika kita dengan sengaja tidak menuruti Firman Allah. Kunci kepada kesetiaan adalah keperca- yaan, dan kunci kepada kepercayaan adalah kasih, bukan dari diri sendiri, teta- pi dari Kristus-saksi kita yang teruji dan terbukti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BACAAN ALKITAB HARIAN

FOLLOW THE BIBLE

Yohanes 14:1-31 Rumah Bapa YOH 14:1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. YOH 14:2 Di rumah Bapa-...